Photog by Peter Vidani
Powered by Tumblr
Budaya Menghukum

anamrufisa:

nadzifahz:

Buat kamu, pelajar dan calon orang tua di masa depan :)


BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI DALAM SISTEM PENDIDIKAN KITA.


Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

Read More

(Source: zhafizdan, via rufisa)

"Cowok yang jago musik, cerdas kalo diajak ngobrol, atau jago olahraganya memang kadang-kadang nambah nilai ke-lelakian-nya. Tapi tetep, yang paling ‘laki’ itu yang berani bilang, ‘saya mau nikah sama kamu, karena Allah.’"

apabangetlunay  (via nayasa)

Saya? :/

(via hisani)

(via annisarobbanie)

"Ketika Tuhan menciptakan jarak yang pada akhirnya memisahkan, disitulah Tuhan mengajarimu tentang sebuah kepercayaan."

— (via ceritaperihujan)

(via wilmajidah)

jangan biarkan aku menua tanpa kau temani 

#Dien Kstaria Anindya 

"Cintanya bertepuk sebelah tangan. ya jelas lah. orang tangan yang satu masih genggam masa lalu"

haa galau maning galau maning :( (via mfsyaa)

(Source: abjad14, via mfsyaa)

"Waktu pertama kali pake kerudung panjang, saya dikira orang ‘depan’. Waktu ketahuan ikut mentoring, dianggap masuk pekaes. Waktu bilang mengidolakan Tan Malaka, dianggap orang kiri bahkan komunis. Waktu bilang menganggumi Hatta, dituduh sosialis. Kalo bawa-bawa ayat Al Quran, dianggap sok agamis. Kalo lagi asyik dengan bacaan cinta, dituduh galau. Orang-orang akan terus melabeli kamu atas apa yang mereka lihat. Maka karena itu, jadilah diri sendiri apapun pendapat orang."

— (via mfsyaa)

(Source: nayasa, via mfsyaa)

peringatan.

littlerhara:

Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma nggak pengen diganggu. Cuma itu.

Dan teruntuk kalian yang suka ngebicarain saya padahal jelas-jelas ngga bener, you’d better shut up. Nggak akan pernah saya maafin kalo kalian ngeganggu kenyamanan saya dengan orang yg penting buat saya saat ini.

(via mfsyaa)

"kamu, tunggu aku untuk mempersiapkan diri agar pantas untukmu. bisakah engkau untuk tidak siap menjadi pilihan orang lain?"

un-gentle who behind me (via minggra)

terlalu gatel untuk nggak direblog dan diimbuhi dengan monolog versi saya :

Bukan tentang siapa yang menunggu dan ditunggu, karena jika memang itu kamu, bahkan dalam jauh, dalam jenuh, tidak akan sia-sia karena kelak akan tiba masa kita mengayuh.

Tidak perlu mempersiapkan diri untuk menjadi ‘terlalu baik’, karena kelak itu hanya akan semakin menjauhkan, mungkin perlu kamu pikirkan satu tawaran, bagaimana jika kita menjadi baik bersama-saja dari sekarang ? Karena bukan salahku jika kemudian hati yang berteriak menentukan pilihan.

*tratakdesh tinjudindingkosan

*inibukancurcol

(via ayuprissa)

(via mfsyaa)

Hello I'm Mfsyaa: Kisah Hidup Seorang Istri yang Tidak Mencintai Suaminya :') →

mfsyaa:

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur atas apa yang kita miliki.. :))

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan…

"Begitu banyak yang kusuka darimu. Tak ada cukup buku untuk mencatatnya. Bahkan dunia akan mengantuk tak mampu mendengarkan jika aku harus bercerita tentang apa saja yang kusuka darimu."

— Bernard Batubara (via mfsyaa)

(Source: gangguanmental, via mfsyaa)